Jl. Kedawung, Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281, Tlp./Fax : (0274) 489155 - SMS (0274) 9128241
PRODI TEO
ANTHROPOLOGI ALKITAB

Pdt. David Rubingan, M.Th.
(Dosen Tetap Prodi Teologi/Kependetaan)


I. PENDAHULUAN
Membicarakan tentang siapakah manusia itu, baik ditinjau dari segi dogmatis, etis, yang berdasarkan pemikiran teologis, tidak akan dapat dilepaskan dari hubungannya dengan Pernyataan Allah tentang manusia di dalam Alkitab. Mengapa demikian ? Sebab hanya dari Alkitab itulah sumber dan dasar pemikiran teologis Kristen, satu-satunya dan yang sebenarnya, sekalipun pemikiran teologis Kristen tidak pernah menutup diri dari sumbangan pemikiran-pemikiran di luar pandangan Alkitab. Juga kita dapat mengetahui akan pandangan Alkitab tentang manusia, perkembangan pemikiran teologis Kristen tentang manusia dari masa ke masa sampai sekarang, yang telah diupayakan oleh para bapa Gereja dan para teolog yang mendahului kita. Dan pada gilirannya para bapa Gereja dan para teolog masa kini dan masa yang akan datang bertugas untuk merumuskan ulang akan anthropologi Kristen secara aktual dan universal dalam rangka memberi jawaban kepada manusia modern tentang siapakah dirinya, sekaligus bertugas merumuskan pokok-pokok pikiran anthropologis Kristen yang dapat disumbangkan kepada umat manusia secara keseluruhan tanpa menutup diri dari sumbangan pemikiran dari agama-agama lain maupun disiplin ilmu yang lain.
Hal yang perlu kita perhatikan ialah bahwa teologi tentang anthropologi Kristen itu harus memuliakan Sang Penciptanya memuliakan manusia (harkat martabat) dalam rangka memuliakan Sang Penciptanya juga. Namun untuk melangkah secara lebih jauh, terlebih dahulu betapa penting kita menyelidiki, mengetahui, dan mengenal terlebih dahulu pokok-pokok pikiran tentang apa dan siapakah, bagaimana dan kemanakah manusia itu di dunia ini menurut pengajaran Alkitab? Agar supaya dari pokok-pokok pikiran itu, kitapun dapat berdialog dengan pemikiran-pemikiran dari ajaran yang lain, dan kemudian dapat merumuskan secara baru, di jaman yang baru, demi kepentingan manusia itu secara bersama-sama.


II. ANTHROPOLOGI ALKITAB
Penciptaan langit, bumi, laut dengan segala isinya, mengandung sesuatu yang luar biasa atau ajaib. Kata kerja Ibrani “bara”, yang berarti “menjadikan” atau “menciptakan” atau “membuat”, adalah menggambarkan pekerjaan Allah sebagai sesuatu yang ajaib. Mengapa? Karena Allah ”menciptakan” langit, bumi, dan laut dengan segala isinya dari realitas semula yang tidak ada menjadi ada, dari tidak ada segala sesuatu lalu segala sesuatu itu ada, atau dari ketiadaan materia menjadi ada materi.
Dan Karya Penciptaan langit, bumi dan laut dengan segala isinya itu oleh Allah berarti Allah berkenan menyatakan diriNya, membuka rahasia diriNya, dan mengaruniakan diriNya sehingga dapat dikenal, dipuji, dan dipercayai oleh para makhluk, khususnya makhluk manusia.
Pengakuan bahwa Tuhan Allahlah yang menciptakan langit, bumi, laut dengan segala isinya, mengandung pengertian juga, yaitu bahwa Allah sendiri tidak termasuk kedalam “keseluruhan” langit dan bumi itu. Namun Ia berkenan hadir, berdiam baik di langit atau di bumi, hal itu berarti bahwa Ia berdiri sendiri “di luar” atau “di atas” keseluruhan makhluk ciptaanNya. Ia berdiri sebagai pencipta segala sesuatu, sedang langit, bumi, dan laut dengan segala isinya berkedudukan sebagai makhluk ciptaanNya. Dan dengan keyakinan ini, berarti bahwa semua makhluk ciptaanNya baik yang di langit, di bumi, dan di laut, termasuk manusia hidup dan kehidupannya sangat bergantung dari kemurahan Sang Pencipta. Dalam hubungannya dengan Pencipta langit, bumi, laut dengan segala isinya itu, selain Allah sebagai pusat segala makhluk. Apa sebab? Sebab manusia dipercaya Allah untuk menguasai, mengusahakan, dan memelihara alam semesta. Hal itu berarti berapa mulianya manusia itu. Karenanya, mari kita mengenal lebih dekat, apa kata Alkitab tentang manusia. Siapakah manusia itu sebenarnya, sehingga ia ditempatkan pada posisi dan kedudukan yang terhormat dan termulia dari pada makhluk-makhluk lainnya. Mari kita simak satu persatu ajaran Alkitab tentang manusia.


1. Manusia Makhluk Ciptaan Allah
Diantara segala ciptaan Allah itu ada satu makhluk yang perlu perhatian khusus yaitu manusia, “makhluk utama” dan “mahkota segala makhluk”. Sekalipun manusia sebagai makhluk yang utama dan mulia di dunia ini, tetapi ia harus tetap ingat bahwa dirinya adalah sebagai makhluk ciptaan Allah. Hal ini juga berarti bahwa manusia di dunia ini sebagai makhluk terbatas dan hidup bergantung pada Allah, sebagaimana dinyatakan A.O. Dysonm sebagai berikut : “However, human existencem as finite, is dependent on God as absolute being and is also subject to all manner of causal determinants in the world.”


2. Nasib Manusia atau Rahasia Hidup Manusia
Manusia dicipta menurut “gambar dan rupa” Allah (Kejadian 1:26-27). Secara asasi ini berarti bahwa manusia dicipta Allah dalam rangka persekutuan dengan Allah. Bila manusia dalam aktifitasnya memilih “putus” hubungannya dengan Allah, maka ia akan terasing dari nasib hidup yang penuh kemuliaan yang telah ditentukan dan dirahmatkan oleh Allah. Manusia dihadapan Allah ditempatkan sebagai “engkau”, yang dipanggil untuk menjawab rahmat Allah, pengampunan Allah, dan penyelamatan Allah. Hanya dengan cara demikian manusia akan mampu menjadi dirinya yang sebenarnya sesuai dengan kehendak Allah.



3. Manusia itu Laki-laki dan Perempuan
Rahasia kehidupan manusia yang tak kalah penting adalah tercipta sebagai laki-laki dan perempuan. Dalam Kejadian 1-2 Akkah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, dan dengan demikian manusia menjadi makhluk yang sempurna (Kejadian 2:4b-25). Perlu diketahui juga bahwa sebutan “manusia” mengandung pengertian seluruh umat manusia, yang mencakup juga laki-laki dan perempuan. Hal itu juga nampak dalam ajaran Paulus. Dalam Roma 5:12 dan I Korintus 15:22, 45, Paulus menyatakan tentang Adam yang mewakili seluruh umat manusia, “persekutuan dengan Adam”, sama seperti ia memandang bahwa semua orang Kristen seperti “dalam persekutuan dengan Kristus”.


4. Manusia Sebagai Gambar Allah
Masalah berikut yang menarik perhatian ialah, bahwa manusia itu diciptakan menurut gambar Allah atau imago Dei (latin), atau “eikon tu Theu” (Yun). Manusia dicipta menurut keserupaan dengan Allah, atau “persamaan” atau “kemiripan dengan Allah. Hal itu berarti bahwa manusia ciptaanNya itu ada kemiripan dan persamaan dengan Allah, namun manusia bukan Allah. Ia tetap sebagai makhluk dihadapan penciptaNya. Manusia diciptakan mirip dengan Allah. Setidak-tidaknya mirip dengan sifat Allah, mirip dengan kehidupan alam Sorgawi (Kej 1:26 ; Maz 8:6). Manusia adalah makhluk tertinggi di bumi, namun ia tetap makhluk. Jadi Allah menciptakan manusia mirip dengan sifatNya sendiri. Arti manusia sebagai gambar Allah diungkapkan oleh Alan Richardson demikian :“... Man is made in the Image of God : This means that man Shares with God the power of understanding truth, of creating what is beautiful and doing what is right, in this man differs from every other living creature upon earth.”


5. Manusia Mengemban Tugas Berbudaya
Sebagai Gambar Allah, dalam melaksanakan dan mewujudkan tugasnya itu, haruslah selalu berhubungan dengan Allah, sesama, dan dunia sedemikian erat. Berdasarkan Kej 1:26-28 ; 2:15, manusia di dunia ini mendapat mandat dari Allah, yaitu mandat memerintah, mengusahakan, memelihara alam semesta ini atau tugas kebudayaan. Tugas kebudayaan ini sungguh luhur dan mulia, yang patut ditanggapi manusia secara positif, kreatif, dan produktif. Tugas tersebut sudah selayaknya dipatuhi dan ditaati dengan kerelaan hati, dan sekali-kali jangan disalahgunakan.


6. Dosa dan Keselamatan Manusia
Ajaran Alkitab tentang dosa manusia pertama-tama kita capai dalam Kejadian Pasal 3. Kejatuhan manusia (Kej 3) itu secara eksistensial melibatkan manusia seutuhnya yang menolak untuk menjawab sabda Allah, dan untuk masuk dalam hubungan yang dapat memenuhi maksud Allah. Manusia mencari dan mendapatkan kebenaran nasib hidupnya yang sejati, bukan menurut anugerah Allah, melainkan menurut ketetapan dan ketentuan menurut ukurannya sendiri. Manusia yang seharusnya tetap terus menerus masuk dalam hubungan yang benar dengan Allah, sesam, dan dunia, yang di dalam hubungan mana manusia mampu merefleksikan Gambar Allah dan kemulyaan Allah. Namun manusia memilih menentukan nasibnya sendiri hanya dalam relasi dengan dunia, menyembahnya, sebaliknya kebenaran Allah, sabdaNya, dan Allah sebagai Penciptanya ditolak (Rum 1:25). Akibatnya kehidupan manusia itu menjadi bercirikan perbudakan (Ibr 2:14-15), konflik dengan kuasa jahat (Ef 6:12), lemah dan putus asa (Yes 40:6), dia juga pembujuk dan jahat di hatinya/pikirannya (Kej 8:21 ; Ayub 14:4 ; Maz 51:5 ; Mat 12:39 ; 15:19-20), berbalik dari kebenaran Allah kedalam dusta (Rum 1:25).


7. Struktur Manusia
Ada bermacam-macam sabda yang menggambarkan hubungan manusia dengan Allah dan lingkungannya serta dalam struktur keberadaannya. Misalnya : roh (Ibr: Ruah, Yun: Pneuma), jiwa (Ibr. Nefes, Yun: psûkhê), tubuh (Yun: sôma), daging (Ibr: basar, Yun: sarx). Kata-kata ini digunakan menurut aspek aktivitas manusia yang berbeda atau tidak menekankan perhatian kehendak, tetapi semuanya harus tidak dipandang sebagai gambaran keterpisahan atau bagian yang terpisah atas manusia itu. Penggunaan kata jiwa mungkin menekankan segi individu, tenaga hidup yang menekankan kehidupan batin, perasaan, dan kesadaran pribadinya. Penggunan kata tubuh, barangkali menekankan sejarah dan pergaulan dengan dunia luar, yaitu kecenderungannya. Tetapi jiwa harus ada, yaitu jiwa dari tubuhnya, dan sebaliknya tubuh dari jiwanya. Manusia sebagai daging adalah manusia dalam hubungannya dengan kenyataan sifat kemanusiaan secara keseluruhan, bukan hanya dalam kelemahan tetapi juga dalam keberdosaan melawan Allah. Dalam PB, Rasul Paulus menguraikan pandangannya tentang struktur manusia itu meliputi : Psûkhê (jiwa), pneuma(roh), kardia (hati manusia), nous (akal budi, pikiran), suneidesis (hati nurani), sarx (daging), dan sôma (tubuh).


III. KESIMPULAN
Jika kita amati ajaran Alkitab tentang apa dan siapa manusia itu, maka kita boleh berbangga hati, sebab dari sekian banyak makhluk hidup ciptaan Tuhan, hanya manusialah yang diperlengkapi dengan akal budi, kehendak bebas, keinginan, dan hati nurani atau rasa susila. Ia juga dicipta sebagai makhluk yang bertanggungjawab. Ia ditempatkan di dunia ini sebagai wakil Allah untuk menguasai alam semesta ini menurut kehendakNya. Manusia ditempatkan oleh Allah untuk “menjadi mahkota penjadian”, yang punya peranan strategis dalam membangun dunia ini, sebagai sekutuNya. Ia harus bekerja dengan rajin dan sungguh-sungguh dengan semangat mengabdi pada Allah dan juga mengabdi pada maksud dan tujuan Allah.
Bila kita melihat struktur manusia, hal itu menunjuk akan keanekaragaman unsur potensi sifat manusia yang total dan menyeluruh. Masing-masing punya fungsi untuk kepentingan manusia yang total itu. Masing-masing boleh dibedakan tetapi tidak boleh dipisahkan. Sebab jika dipisah-pisahkan antara unsur yang satu dengan yang lain, justru manusia itu tidak akan berkembang sesuai dengan maksud, rencana, dan tujuan Tuhan Allah. Ia tidak akan berkembang ke arah yang lebih baik dan ke arah yang lebih sempurna.
Dibalik kebanggaan itu kita prihatin, karena manusia itu telah gagal menjadi gambar Allah, gagal melaksanakan dan mewujudkan mandatNya di bumi ini, oleh karena manusia memilih berbuat dosa dihadapan Sang PenciptaNya. Namun di dalam Kristus, kita manusia punya masa depan yang positif. Karena di dalam Dia ada keselamatan, dan kita tetap dipakai Allah, untuk melayani maksud, rencana, karya, dan tujuan Allah yaitu menyelamatkan dunia ini.


DAFTAR PUSTAKA

1. Barth, Ch., Theologia Perjanjian Lama I., Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1970.
2. Botterweck, G.J.,Cs. (Ed), Theological Dictionary of The Old Testament, Vol.I., Michigan, William B. Eardmans Publishing Co., 1974.

3. Douglas, J.D.,Cs.(ed), New Bible Dictionary, England-USA, Intervarsity Press and Tyndale House Publishers, Second Edition, 1988.

4. Guthrie, D., Teologi Perjanjian Baru I, (Terjemahan L.T. Gamadhi Dkk), Jakarta, BPK Gunung Mulia, 1991.

5. Kittel, G., (Ed), Theological Dictionary of The New Testament, Michigan-London, MWB, Eerdmans Publishing Co., 1964.

6. Richardson, A., (Ed), A New Dictionary of Christian Theology, SCM Press LTD, Fourth Impression, 1987.

7. -----------------------------, A Theological Word Book of The Bible, Melksham, Redwood Press Limited, Twentieth Impression, 1990.

8. Verkuyl, J., Etika Kristen dan Kebudayaan, Jakarta, BPK Gunung Mulia, Cet.II., 1966